Pendidikan

Pusat Pendidikan

Lembaga menurut bahasa adalah “badan” atau “organisasi” (tempat berkumpul). Badan (lembaga) pendidikan, menurut Ahmad D. Marimba adalah organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab pendidikan kepada peserta didik sesuai dengan badan tersebut.

Membicarakan pusat pendidikan berarti mempertanyakan di lingkungan manakah peserta didik seyogianya memperoleh pen­didikan. Karena itu, pusat pendidikan ini kadang-kadang disebut sebagai lingkungan pendidikan, bahkan sering pula disebut sebagai lem­baga pendidikan. Dikatakan sebagai lingkungan pendidikan adalah karena kelangsungan pendidikan itu dilaksanakan dalam lingkungan ter­tentu yang berbeda dengan lingkungan lain yang tidak memiliki aksentuasi terhadap pendidikan. Disebut sebagai lembaga pendi­dikan adalah karena kedudukannya sebagai institusi pendidikan yang telah melembaga dengan aktivitas kesehariannya yang banyak mempe­ngaruhi perkembangan pendidikan.[[Siddiq, Dja’far. Konsep Dasar Pendidikan Islam. TT.]]

Lembaga pendidikan Islam ialah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam yang baik, yang permanen, maupun yang berubah-ubah dan mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berad adalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai kekuatan hokum tersendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa lembaga pendidikan Islam adalah tenpat atau oganisasi yang menyelenggarakan pendidikan Islam, yang mempunya istruktur yang jelas dan bertanggung jawab atas terlaksananya pendidikan Islam.Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam tersebut harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan terlaksananya pendidikan dengan baik, menurut tugas yang diberikan kepadanya, seperti sekolah (madrasah) yang melaksanakan proses pendidikan Islam.

Secara konsep, lembaga sosial terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) asosiasi, misalnya universitas atau persatuan, (2) organisasi khusus misalnya sekolah, rumah sakit, (3) pola tingkah laku yang telah menjadi kebiasaan. Dalam Islam, pola tingkah laku yang telah melembaga pada jiwa setiap individu muslim mempunyai dua bagian, yaitu lembaga yang tidak dapat berubah dan lembaga yang dapat berubah.[[Mudzakir, Jusuf & Abdul Mujib,. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. h. 221]]

Jenis-Jenis Lembaga Pendidikan Islam

Menurut Sidi Gazalba, lembaga yang berkewajiban melaksanakan pendidikan Islam adalah sebagai berikut:[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah. h. 150]]

  1. Rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase kanak-kanak sampai usia sekolah. Pendidikannya adalah orangtua, sanak kerabat, family, saudara-saudara, teman sepermainan,dan kenalan pergaulan.
  2. Sekolah, yaitu pendidik sekunder yang mendidik anak mulai dari usia masuks ekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidikannya adalah guru yang professional.
  3. Kesatuan sosial, yaitu pendidikan terakhir yang merupakan pendidikan yang terakhir tetapi bersifat permanen. Pendidikanya adalah kebudayaan, adat istiadat, dan suasana masyarakat setempat.

Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits secara eksplisit tidak disebutkan secara khusus mengenai adanya lembaga pendidikan, sekolah atau madrasah. Lembaga-lembaga pendidikan selengkapnya akan dikemukakan sebagai berikut:

1. Keluarga

Menurut Hammuda hAbd Al-Ati, definisi keluarga secra operasional adalah suatu struktur yang bersifat khusus, satu sama lain dalam keluarga mempunyai ikatan melalui hubungan darah atau pernikahan.[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, h. 151]] Sistem kekeluargaan menurut Islam adalah “al-usrat az-zawjiyyah” (suami istri) yaitu keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak yang belum cukup umur atau berumah tangga. Anak yang telah menikah dipandang telah membuat keluarga pula.

Keluarga merupakaan lembaga pendidikan yang pertama, tempat peserta didik perta kali menerima pendidikan dan bimbingan dari orangtua atau anggota keluarga lain. Keluargalah yang meletakkan dasar-dasar kepribadian anak, karena pada masa ini, anak lebih peka terhadap pengaruh pendidik (orangtua).

Lembaga pendidikan pertama dalam Islam adalah keluarga atau rumah tangga. Rumah sebagai lembaga pendidikan dalam Islam sudah diisyaratkan oleh Al-Qur’an, seperti yang terkandung dalam Asy-Syura ayat 26:

Untitled

Artinya: “Berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q.S. Asy-Syura: 26)

2. Sekolah atau Madrasah

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga. Semakin besar anak, semakin banyak kebutuhannya. Kerana keterbatasannya, orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut. Oleh karena itu, orangtua menyerahkan sebagian tanggung  jawabnya kepada sekolah. Masa sekolah bukan satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar. Namun disadari bahwa sekolah merupakan tempat dan saat yang strategis bagi pemerintah dan masyarakat untuk membina peserta didik dalam menghadapi kehidupan masa depan.

Tugas guru dan pemimpin sekolah, di samping memberikan pendidikan budi pekerti dan keagamaan, juga memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Pendidikan budi pekerti dan keagamaan di sekolah haruslah merupakan lanjutan, setidak-tidaknya jangan bertentangan dengan apa yang diberikan dalam keluarga.

3. Masyarakat

Masyarakat turut serta dalam memikul tanggung jawab pendidikan. Masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan, dan agama setiap masyarakat. masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya.

Masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang kedua setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan ini telah dimulai sejak anak-anak, berlangsung beberapa jam dalam satu hari selepas dari pendidikan keluarga dan sekolah. Corak pendidikan yang diterima peserta didik dalam masyarakat ini banyak sekali, yaitu meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan, pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

Aktivitas dan interaksi antar sesama manusia dalam badan pendidikan tersebut banyak mempengaruhi perkembangan kepribadian anggotanya cenderung berwarna islami pula. Sebaliknya, jika aktivitas dan interaksi di dalamnya bercorak sekuler maka kepribadian anggotanya akan cenderung seperti itu pula.

4. Masjid

Peran masjid dalam pendidikan Islam antara lain adalah, pertama, peran masjid sebagia lembaga pendidikan informal dapat dilihat dari segi fungsinya sebagai tempat ibadah, sedangkan peran masjid sebagai lembaga nonformal dapat dilihat dari sejumlah kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam bentuk halaqah(lingkungan studi) yang dipimpin oleh seorang ulama. Kedua, peran masjid sebagai lembaga pendidikan sosial kemasyarakatan dan kepemimpinan. Hal ini berkaitan dengan kepentingan mesyarakat dapat dipelajari di masjid dengan cara melibatkan diri dalam kegiatan yang bersifat amaliyah.[[Nata, Abuddin. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. h. 189]]

5. Al-Kuttab, Surau dan TPA

Munculnya lembaga pendidikan al-kuttab dapat ditelusuri sampai kepada zaman Rasulullah SAW. al-kuttab pernah memaiankan peranan yang cukup besar dalam bidang pendidikan, khususnya permulaan sejarah Islam, ketika Nabi SAW memerintahkan para tawanan perang Badar yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak Madinah. Keberadaan al-kuttab mirip dengan keberadaan surau termasuk lembaga pendidikan dasar yang tertua di Sumatera Barat. Di Surau ini anak-anak diajarkan tentang membaca Al-Qur’an, praktek ibadah shalat, dasar-dasar agama, akidah dan akhlak.

Selanjutnya, TPA atau Taman Pendidikan Anak-anak adalah lembaga pendidikan Islam yang membimbing anak-anak untuk mengenal huruf-huruf hijaiyah, mengucapkan kata-kata atau kalimat huruf Arab, dan selanjutnya membaca dan menghafal surat dan ayat-ayat pendek.[[Nata, Abuddin. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. h. 199]]

Tugas Lembaga Pendidikan Islam

1. Tugas Keluarga

Orang tua dituntut untuk  menjadi pendidik yang memberikan pengetahuan pada anak-anaknya dan memberikan sikap serta keterampilan yang memadai, memimpin keluarga dan mengatur kehidupannya, memberikan contoh sebagai keluarga yang ideal, bertanggung jawab dalam kehhidupan keluarga, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, h. 153-155]]

Tugas di atas wajib dilaksanakan oleh orang tua berdasarkan nash-nash Al-Qur’an, diantaranya:

Firman Allah surat at-Tahrim ayat 6 yakni:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Firman Allah surat an-Nisa ayat 9

An nisa 6

Artinya: dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

2. Tugas Sekolah (Madrasah)

An-Nahlawi dalam Bukhari Umar[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, h. 155-157]] mengemukakan bahwa sekolah (madrasah) sebagai lembaga pendidikan harus mengemban tugas sebagai berikut:

  • Merealisasikan pendidikan yang didasarkan atas prinsip pikir, akidah, dan tasyri’ yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Bentuk realisasi itu adalah agar peserta didik beribadah, mentauhidkan Allah SWT, tunduk dan patuh atas perintah dan syari’at Nya.
  • Memelihara fitrah peserta didik sebagai insan yang mulia, agar ia tidak menyimpang dari tujuan Allah menciptakannya.
  • Memberikan kepada peserta didik seperangkat peradaban dan kebudayaan Islami, dengan cara mengintegrasikan antara ilmu alam, ilmu sosial, ilmu ekstra dengan landasan ilmu agama.
  • Membersihkan pikiran dan jiwa peserta didik dari pengaruh subjektivitas (emosi) karena pengaruh zaman dewasa ini lebih mengarah pada penyimpangan fitrah manusia.
  • Memberikan wawasan nilai dan moralsserta peradaban manusia yang membawa khazanah pemikiran peserta didik menjadi berkembang.
  • Menciptakan suasana kesatuan dan kesamaan antara peserta didik.
  • Tugas mengoordinasikan dan membenahi kegiatan pendidikan lembaga-lembaga pendidikan keluarga, masjid, dan pesantren mempunyai saham sendiri dalam merealisasikan tujuan pendidikan, tetapi pemberian saham itu belum cukup. Oleh karena itu, madrasah hadir untuk melengkapi dan membenahi kegiatan pendidikan yang berlangsung.
  • Menyempurnakan tugas-tugas pendidikan keluarga, masjid dan pesantren.

3. Tugas Lembaga Pendidikan Masyarakat

Tugas Masjid

Pada masa permulaan Islam, masjid memiliki fungsi yang sangat angung. Dahulu, masjid berfungsi sebagai pangkalan angkatan perang dan gerakan kemerdekaan, pembebasan umat dari penyembahan terhadap manusia, berhala dan taghut, agar mereka beribadah kepada Allah SWT semata. Di samping itu, masjid berfungsi sebagai markas pendidikan. Di situlah manusia dididik supaya memegang teguh keutamaan, cinta kepada ilmu pengetahuan, mempunyai kesadaran sosial, serta menyadari hak dan kewajiban mereka dalam negara Islam yang didirikan guna merelisasikan ketaatan kepada Allah. Pengajaran baca tulis sebagai gerakan pemberantasan buta huruf dimulai dari masjid Rasulullah SAW.[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, h. 158]]

Tugas Pesantren

Dari tujuan pesantren seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Amir Feisal, dapat dilihat tugas yang diemban pesantren adalah sebagai berikut:[[Umar, Bukhori. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, h. 160-161]]

  • Mencetak ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama. Sesuai dengan firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 122:

     وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

    Artinya: dan tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
  • Mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama. Lulusan pesantren, walaupun mereka tidak sampai ke tingkat ulama, adalah mereka yang harus mempunyai kemampuan melaksanakan syariat agama secara nyata dalam rangka mengisi, membina, dan mengembangkan suatu peradaban dalam perspektif Islami.
  • Mendidik agar objek memiliki kemampuan dasar yang relevan dengan terbentuknya masyarakat yang beragama. Selain dari kedua kelompok di atas, kenyataan membuktikan bahwa setiap kelompok msyarakat dalam bentuk kultur dan peradaban apapun, ada sekelompok manusia terakhir ini yang tidak memiliki komitmen (keterkaitan yang erat) dengan nilai-nilai dan cita-cita yang relevan dengan agama.

Prinsip-prinsip Lembaga Pendidikan Islam[[Mudzakir, Jusuf & Abdul Mujib,. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. h. 223]]

Bentuk lembaga pedidikan Islam apapun dalam Islam harus berpijak pada prinsip-prinsip tertentu yang telah disepakati sebelumnya, sehingga antara lembaga satu dengan lembaga lainnya tidak terjadi semacam tumpang tindih. Prinsip-prinsip pembentukan lembaga pendidikan Islam itu adalah:

  1. Prinsip pembebasan manusia dari ancaman kesesatan yang menjerumuskan manusia pada api neraka (QS. At-Thamrin:6)
  2. Prinsip pembinaan umat manusia menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup bahagia dunia dan akherak (QS. Al-Baqarah: 201; al-Qashash: 77)
  3. Prinsip pembentukan kepribadian manusia yang memancarkan sinar keimanan yang kaya dengan ilmu pengetahuan, yang satu sama lain  mengembangkan hidupnya untuk menghambakan diri pada Khaliknya (QS. Al-Mujadilah: 11)
  4. Prinsip amar ma’ruf nahi dan munkar dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kenistaan (QS. Ali-Imran: 104, 110)
  5. Prinsip pengembangan daya pikir , daya nalar, dan daya rasa sehingga dapat menciptakan anak didik yang kreatif dan dapat memfungsikan daya cipta, rasa dan karsa.

{{referensi}}

Tinggalkan komentar

0 Shares
Copy link
Powered by Social Snap